Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika

admin On February - 24 - 2010

oleh : agnes dwi
Udara dingin membalut desa Cigugur akhir pekan ini. Kabut mulai menyelubungi desa yang terletak di sebalah barat gunung Ciremai sejak pukul 16.00. Gerimis mulai turun menambah licin sepanjang jalan yang berliku membelah bukit.

Sore hampir usai ketika saya bersama rombongan kecil memasuki desa yang terkenal dengan tape ketan itu. Hari itu suasana terlihat meriah, terutama di Paseban Tri Panca Tunggal, kediaman Pangeran Djatikusumah, yang didirikan tahun 1840. Masyarakat Cigugur dan sekitarnya berkumpul di paseban tersebut untuk merayakan hari lahirnya Pangeran Sadewa Alibasa Kusuma Wijaya Ningrat. Beliau adalah seorang keturunan kerajaan Gebang sebuah kasultanan di wilayah Cirebon Timur.

Sejarah dimulai ketika salah seorang tokoh bernama Pangeran Gebang yang cukup keras menentang kekuasaan dan penguasaan VOC serta kolonial Belanda. Karena kegigihannya tersebut kerajaan gebang dihancurkan. Namun salah seorang keturunannya berhasil diselamatkan dan dititipkan kepada salah seorang prajurit Mataram yang menjadi “kuwu” atau kepala dukuh di wilayah Cigugur yang bernama Ki Sastrawardana. Keturunan kerajaan Gebang tersebut bernama kecil Taswan, kelak setelah dewasa bernama Sadewa Alibasa Wijaya Kusumah Ningrat atau dikenal dengan nama Pangeran Surya Nata.

Pada perkembangan berikutnya ia lebih dikenal dnegan nama pangeran Madrais atau Kiyayi Madrais. Sebutan “Kiyayi” sesungguhnya sebutan penghargaan kepada seorang tokoh atau pemimpin yang sangat dihormati dan dituakan.

Pangeran Madrais dikenal oleh masyarakat awam dan kalangan pesantren mengembangan tuntunan ajaran “Jati Sunda”. Masyarakat awam dan Belanda menyebut ajaran itu dengan sebutan “Ajaran Djawa Sunda” yang merupakan folosofi dari “Andjawat lan Andjawab roh susun-susun kang den tunda” atau memilih dan menyaring roh kehidupan alam untuk menyempurnakan menjadi ruh insan. Pangeran Madrais dikenal memiliki cara pandang yang sangat luas dalam wawasan kebangsaan dan kemanusiaan melalui ajaran yang menyangkut CARA DAN CIRI MANUSIA (welas asih/cinta kasih, tatakrama/aturan berperilaku, undak-usuk/etika atau bersikap, budi daya-budi/daya kreatifitas dan berbahasa, wiwaha yuda na raga/sikap bijak dan penuh pertimbangan) serta CARA dan CIRI BANGSA (rupa, aksara, adat dan budaya). Tuntunan Madraisme yang dianggap berbahaya oleh kolonial Belanda, karena akan dianggap membakar semangat pariotisme dan nasionalisme.

Pada tahun 1901pangeran Madrais dibuang ke Boven Digul Papua. Hal ini dikukan agar gerak langkah sang pangeran dan pengikutnya berhenti. tuduhan yang dialamatkan padanya adalah menyebarkan ajaran yang menyimpang, memeras rakyat. Pangeran Madrais tidak berniat untukmendirikan agama baru tetapi membangkitkan dan melestarikan budaya leluhur bangsa Indonesia.

Refleksi dari perjuangan serta perjalanan Pangeran Sadewa Alibasa Kusumah Wijaya Ningrat atau Pangeran Madrais adalah untuk melestarikan dan memperjuangankan jati diri bangsa sebagai manusia ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

Dalam acara ini dipersembahan tari Buyung karya Emalia Djatikusuma yang bercerita tentang kehidupan masyarakat Cigugur dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat berinteraksi dengan alam dan air, dimana keduanya adalah sinergi bagi kehidupan. Kegiatan kali ini juga dihadiri oleh perwakilan forum silaturahmi keraton-keraton nusantara serta perwakilan dari kerajaan Brunei Darusalam.

Perjuangan masyarakat Cigugur masih panjang, hal ini juga berkaitan dengan hak mereka untuk dapat mncantumkan agama atau kepercayaannya dalam identitas diri. Dalam kartu Penduduk masih terdapat 6 agama dan kepercayaan saja yang harus dipilih, sehingga hal ini masih menjadi persoalan tersendiri bagi masyarakat. Selayaknya pemerintah tidak setengah-setengah dalam memberikan hak dan pengakuan warga negara. Sepenuhnya hak untuk berkeyakinan harus dilindungi dan difasilitasi oleh negara. Tidak hanya sebatas ritual kebudayaan yang harus dilestarikan, tetapi pengakuan secara jelas sebagai warga negara untuk beragama dan berkeyakinan dengan bebas.

Malam makin dingin, ketika rombongan kecil saya merayap membelah malam meninggalkan kesunyian Cigugur. Satu semangat yang tertinggal bahwa kita harus merebut hak sebagai warga negara untuk mendapat pengakuan atas kepercayaan kita sampai kapan pun.

Related Articles:

Post Footer automatically generated by Add Post Footer Plugin for wordpress.

Categories: Artikel

Leave a Reply

About Us

Aliansi Nasional Bhinneka Tunggal Ika (ANBTI) lahir sebagai bentuk keprihatinan masyarakat sipil terhadap maraknya upaya pengkhianatan terhadap Konstitusi, Pancasila, dan Bhinneka Tunggal Ika. more>>

Recent Comments

Switch to our mobile site